30 August 2006

Wadah Rasan-Rasan PMKRI Purwokerto

kebondalem tempo doeloe...[yodha ;p]

To: pmkri-purwokerto-net@yahoogroups.com
From: "Tjatur Widyantoro" tjatur_fx@yahoo.com
Date: Wed, 30 Aug 2006 10:18:17 -0000
Subject: [pmkri-purwokerto-net] Kejutan!!! Website n Milis PMKRI Purwokerto

Hallooowww

Inyong arep woro woro,
Mulai siki kon sekabeyan iso ndeleng tampange dewek seka nang endi baen via website.
Kari klik:
(Spoiler: Mohon perhatian....Ini bukan banyumasan yang benar)

1. Nek arep ndeleng foto cover milist PMKRI Purwokerto iso dibuka:
http://groups.yahoo.com/group/pmkri-purwokerto-net/
2. Foto-foto gathering:
http://www.imagestation.com/album/pictures.html?id=2102480383
http://www.ringo.com/share.html?id=Akvf1QohREu0&origin=photoinvite
3. Database dan alamat peserta gathering:
http://groups.yahoo.com/group/pmkri-purwokerto-net/files/
4. Blog PMKRI (isih durung lengkap):
http://pmkri-pwt.blogspot.com

Silahkan mengirimkan tulisan via yahoogroups ben iso di publish nang website.
Siki mung lagi tulisane karim sing dilebokna
Ding...ding...Buzzz...Buzz
Blog iki luwih mencerminkan pembentukan komunitas dimana beragam latar belakang kumpul, gendhu gendhu roso. So isine blog: Sosial, Kemasyarakatan, Ekonomi Bisnis tapi sing ana sense of humor-e. Yo Pro Ecclessia Et paatria, mung sing lucu. Jo serius serius. So Idealis mung menghibur. Anggep ae koyo gereja. Mulai dari Romo nganti rampok iso ketemu dan gak ada yang ngrasa tersinggung. Nek arep sing ekstrim ekstrim, abot saingane ro Campina ro Walls.

Cheers,

lagi2 puisi..

conflicts by yodha ;p 110606

BENALU YANG INDAH

aku adalah benalu bagi diriku
karena roh ini sebuah benalu bagi jasadku
karena tak ada jasad menjadi benalu bagi roh
aku adalah benalu
aku adalah roh yang menjadi benalu
tapi roh yang menjadi benalu bagiku adalah cermin, cermin kesadaran
bukan tameng besi karatan yang tak terurus
itulah benalu yang menjadi cerminku
karena cermin takkan pernah berkarat seperti besi

MATAHARI DI UJUNG SENJA

matahari di ujung pengharapan seorang tua dekil
dengan tongkat kayu dan masih menyisakan sorot matanya
yang tajam setajam pisau seorang pengembara
..
matahari dengan sinar yang tak pernah bosan
menyinari setiap relung kehidupan
yang hitam atau putih
yang nyata atau abstrak
bahkan yang tak pernah seorang manusia pun pikirkan
matahari adalah masa depanku
matahari adalah sinar yang pernah menyinari masa laluku
lalu menembus sebuah suryakanta yang dapat membakar
sehelai kertas atau menembus masa depan

KAPAL LAYAR

bawalah aku
sebrangkan diriku kemana pun kau pergi
atau bawa aku ke tempat yang tak bertuan
dimana aku dapat bercengkrama dalam kesendirian
dan menikmati lamunan dalam bayang-bayang diriku
tapi jangan tenggelamkan raga dan jiwa ini
dalam kelamnya kegelapan yang tak pernah ku bayangkan
karena aku tak pernah menikmati hangatnya cahaya
dan dinginnya angin

(Bekasi Oktober 2001)
  • conflicts dibikin pas balik ke tangerang. kenapa yang ditampilin di artikel ini karya orang? aku punya alasan tersendiri yang bakal dijelasin di lain waktu. yang pasti, banyak dari tulisanku sendiri yang hilang gara2 gak punya arsip, dipinjem orang trus diklaim, 'n saudara2ku.. Indonesia banget! gak mungkin ada orisinalitas kalo udah jelas gaya 'n pilihan katanya mirip ini-itu... jangan munafik... semua mulai dari NYONTEK! iya khan... that's why... i called this conflicts!

puisi-puisi lama ku...


kertas --21 april 1999
...
pabila gejolak hati tak menentu
menanti sang waktu yang tak kunjung berakhir
kehadiranmu tak terasa menghanyutkan
emosi tercurah dalam deretan kata tanpa makna
sementara ekspresi jiwa terus bergelayut mencari kata-kata

lentera merah --22 oktober 1999
...
cakrawala di ufuk timur semburatkan warna keemasan
sepasang capung berputar-putar nantikan hujan
hari ini tak secerah hijau padi dan rumput liar
waktunya untuk kembali bekerja demi cita
..
seorang kawan pernah berkata;
"mimpi adalah kenyataan yang semu..!"
tak ku ingkari satupun kata-katanya
rasa kehilangan ini semakin larut dalam lamunan malam
aku ingin cinta, dirinya dan bibirnya
..
api lilin kecil di sudut kamar lamat-lamat meredup
kemanakah belahan jiwa berlabuh.. aku sepi
maha dewi, engkaukah dirinya?
lelah sekujur pikiran menanti hadirmu kembali
aku mau lari tapi kakiku terpasung hari
mawar di tepi taman meratap kesepian
aku bosan dengan kata-kata.. aku bosan dengan fatamorgana
..
lentera kunyalakan
pertanda malam berpisah
dengan matahari
...

24 August 2006

A Story of Creation

In the beginning, God created heaven and earth.

Shortly thereafter God was in receipt of a notice to show cause why he shouldn't be cited for failure to file an environmental impact statement. He was granted a temporary planning permit for the project, but was stymied by a Cease and Desist Order for the earthly part.

At the hearing, God was asked why he began his earthly project in the first place. He replied that he just liked to be creative.

Then God said, "Let there be light."

Officials immediately demanded to know how the light would be made. Would it require strip mining? What about thermal pollution?

God explained that the light would come from a huge ball of fire, and provisional approval was granted with the proviso that no smoke would result.

The authorities demanded the issuance of a building permit, and (to conserve energy) required that the light be left off half the time. God agreed, saying he would call the light "Day" and the darkness "Night." Officials replied that they were only interested in protecting the environment, not in semantics.

God said, "Let the earth bring forth green herb and such as many seed."

The EPA agreed, so long as only native seed was used.

Then God said, "Let waters bring forth creeping creatures having life; and the fowl that may fly over the earth."

Officials pointed out this would require approval from the Department of Game coordinated with the Heavenly Wildlife Federation and the Audubongelic Society.

Everything went along smoothly until God declared that he intended to complete the project in six days.

Officials informed God it would take at least 200 days to review his many waiver applications and environmental impact statements. After that there would have to be a public hearing, and then there would be a 10-12 month probationary period before....

At this point, God created Hell.

....
taken from "ArcaMax" <ezines@arcamax.com>

20 August 2006

analisis wacana - paradigma kritis -media massa?

Analisis Wacana

Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Sedangkan menurut Michael Foucault (1972), wacana; kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.
Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) -- Analisis Isi (kuantitatif)
Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. --Analisis Framing (bingkai)
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).

Paradigma Kritis

Everett M. Roger, seperti dikutip oleh Eriyanto, mengemukakan bahwa “media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.” Saya memahami pernyataan Everett M. Roger bahwa media memiliki kemungkinan besar dikuasai oleh kelompok berkuasa atau kelompok-kelompok yang memegang kekuasaan.
Menurut Eriyanto ada beberapa pertanyaan yang muncul dari sebuah paradigma kritis. Yaitu: siapa yang mengontrol media? Kenapa ia mengontrol? Keuntungan apa yang bisa diambil dengan kontrol tersebut? Kelompok mana yang tidak dominan dan menjadi obyek pengontrolan?
Mengapa pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting? Karena paradigma kritis ini percaya bahwa media adalah sarana di mana kelompok dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan, bahkan memarjinalkan mereka dengan menguasai dan mengontrol media. Sehingga jawaban yang diharapkan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah adanya kekuatan-kekuatan yang berbeda dalam masyarakat yang mengontrol suatu proses komunikasi.
Menurut Horkheimer, seperti dikutip Eriyanto, salah satu sifat dasar dari teori kritis adalah selalu curiga dan mempertanyakan kondisi masyarakat dewasa ini. Karena kondisi masyarakat yang kelihatannya produktif dan bagus tersebut sesungguhnya terselubung struktur masyarakat yang menindas dan menipu kesadaran khalayak.
Mengenai paradigma kritis, Stephen W. Littlejohn, seperti dikutip Alex Sobur, menjelaskan: “Perkembangan teori komunikasi massa yang didasarkan pada tradisi kritis Eropa (Marxis) cenderung memandang media sebagai alat ideologi kelas dominan. Tradisi Eropa berusaha mematahkan dominasi model komunikasi Amerika yang notabene adalah penganut aliran Laswellian ataupun stimulus-respon, teori yang berasumsi khalayak adalah konsumer pasif media massa. Dengan kata lain, fenomena komunikasi massa bukanlah sekedar sebuah proses yang linear atau sebatas transmisi (pengiriman) pesan kepada khalayak massa, tetapi dalam proses tersebut komunikasi dilihat sebagai produksi dan pertukaran pesan (atau teks) berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna tertentu.”
Dari pernyataan yang diberikan Stephen W. Littlejohn dan Everett M. Roger mengenai paradigma kritis, saya dapat menyimpulkan bahwa media merupakan sebuah alat penyebaran ideologi kelas dominan (para penguasa maupun pemilik modal). Sehingga komunikasi didefinisikan sebagai sarana pertukaran pesan yang bertujuan memproduksi makna tertentu, dimana komunikasi tersebut tentunya mewakili kepentingan kelompok dominan.
Menurut Stuart Hall, paradigma kritis bukan hanya mengubah pandangan mengenai realitas yang dipandang alamiah oleh kaum pluralis, tetapi juga berargumentasi bahwa media adalah kunci utama dari sebuah pertarungan kekuasaan. Karena melalui media, nilai-nilai kelompok dominan dimapankan, dibuat berpengaruh, dan menentukan apa yang diinginkan oleh khalayak.Dalam proses pembentukan realitas, Stuart Hall menekankan pada dua titik, yaitu bahasa dan penandaan politik. Penandaan politik disini diartikan sebagai bagaimana praktik sosial dalam membentuk makna, mengontrol, dan menentukan makna. Menurut Hall, media berperan dalam menandakan peristiwa atau realitas dalam pandangan tertentu, dan menunjukkan bagaimana kekuasaan ideologi di sini berperan – karena ideologi menjadi bidang di mana pertarungan dari kelompok yang ada dalam masyarakat.

Media massa

Menurut Alex Sobur, media (pers) sering disebut banyak orang sebagai the fourth estate (kekuatan keempat) dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini terutama disebabkan oleh suatu persepsi tentang peran yang dapat dimainkan oleh media dalam kaitannya dengan pengembangan kehidupan sosial-ekonomi dan politik masyarakat. Bahkan, media, terlebih dalam posisinya sebagai suatu institusi informasi, dapat pula dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya dan politik. Oleh karena itu, dalam konteks media massa sebagai institusi informasi, Karl Deutsch, menyebutnya sebagai “urat nadi pemerintah” (the nerves of government).
Alex Sobur sendiri mendefinisikan media massa sebagai: “Suatu alat untuk menyampaikan berita, penilaian, atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini publik, antara lain, karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu ide atau gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra yang ia representasikan untuk diletakkan dalam konteks kehidupan yang lebih empiris.”
Berdasarkan pendefinisian media massa menurut Alex Sobur, saya memahami bahwa media massa merupakan suatu alat yang digunakan untuk menyebarkan pendapat umum (opini publik) dari pihak-pihak dominan, misalnya saja pemerintah. Biasanya kelompok dominan menggunakan media massa untuk melakukan pengkonstruksian realitas yang berujung pada upaya legitimasi masyarakat terhadap suatu wacana.
Louis Althusser, menulis bahwa, “Media, dalam hubungannya dengan kekuasaan, menempati posisi strategis, terutama karena anggapan akan kemampuannya sebagai saran legitimasi. Media massa sebagimana lembaga-lembaga pendidikan, agama, seni, dan kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideological states apparatus).”
Namun, pandangan Althusser tentang media ini dianggap Antonio Gramsci, dalam Al-Zastrouw, mengabaikan resistensi ideologis dari kelas tersubordinasi dalam ruang media. Bagi Gramsci, media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies).
Antonio Gramsci dalam Alex Sobur melihat, “Media sebagai ruang di mana berbagai ideologi di representasikan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana publik. Namun di sisi lain, media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.”
Dari semua penjabaran mengenai media massa, saya menyimpulkan, media massa merupakan alat atau sarana penyebaran ideologi kelompok dominan, alat legitimasi, dan alat kontrol sosial atas wacana publik. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya praktek diskursif oleh media terhadap kelompok-kelompok marjinal, yang ditekan oleh kelompok dominan (penguasa). Bahkan, praktek diskursif tadi dapat dimanfaatkan media sebagai alat legitimasi atau pembenaran-pembenaran terhadap suatu konteks permasalahan yang tidak sesuai dengan ideologi dominan.
Alex Sobur berpendapat, bahwa isi media pada hakekatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Begitu juga media cetak, isi media cetak menggunakan teks dan bahasa.Guy Cook menyebut tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana, yaitu teks, konteks, dan wacana. Eriyanto kemudian menjelaskan ketiga makna tersebut, “Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi. Wacana disini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama.”
Dari penjelasan diatas, saya memahami bahwa teks memiliki peranan yang signifikan dalam pembentukan wacana.
Menurut Ibnu Hamad, benar bahwa unsur utama dalam konstruksi realitas adalah bahasa. Kemudian ia mengutip dari Giles dan Wiemann, “bahasa (teks) mampu menentukan konteks”. Karena lewat bahasa disini orang mencoba mempengaruhi orang lain (menunjukkan kekuasaannya) melalui pemilihan kata yang secara efektif mampu memanipulasi konteks.
Namun, menurut Hotman M. Siahaan: “Bahasa tak dapat dipandang sebagai alat komunikasi atau sebuah sistem kode atau nilai yang secara wewenang menunjuk sesuatu realitas monolitik. Bahasa merupakan bahasa sosial dan bukan sesuatu yang netral atau konsisten, melainkan partisipan dalam proses tahu, budaya, dan politik. Bahasa bukan merupakan sesuatu yang transparan, yang menangkap dan memantulkan segala sesuatu diluarnya secara jernih. Secara sosial, terikat bahasa dikonstruksi dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting sosial tertentu dan bukan semata tertata menurut hukum yang diatur secara alamiah dan universal. Karenanya sebagai representasi hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subyek-subyek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana atau diskursus tertentu.”
Norman Fairclough melihat bahasa sebagai praktek kekuasaan. Karena bahasa secara sosial dan historis dianggap sebagai bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Sehingga dalam menganalisis wacana, Fairclough memusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, saya menyimpulkan bahwa bahasa tidak hanya sebagai bahasa verbal, melainkan juga sebagai sebuah kegiatan sosial yang tidak netral dan tidak konsisten. Dalam konteks sosial, bahasa dapat dikonstruksi ataupun direkonstruksi pada kondisi dan setting sosial tertentu.
Untuk kalangan kritis (critical), bahasa dipandang sebagai alat perjuangan kelas. Makna dalam hal ini tidak ditentukan oleh struktur realitas, melainkan oleh kondisi ketika pemaknaan dilakukan melalui praktek sosial, dimana terdapat peluang yang sangat besar bagi terjadinya pertarungan kelas dan ideologi.

ayo belajar!

15 August 2006

GANDHI's said to Indonesia...

saya hendak mengemukakan bahwa
kita sedikit banyaknya adalah pencuri
bila saya mengambil sesuatu yang tidak saya butuhkan
untuk langsung digunakan, dan saya tetap menahannya,
saya mencurinya dari orang lain.

saya hendak mengemukakan bahwa
ini merupakan suatu hukum kodrat yang dasar,
tanpa suatu pengecualian, bahwa Alam itu menghasilkan cukup banyak
untuk kebutuhan kita setiap hari.


jadi apabila setiap orang hanya mengambil
sekedar cukup untuk keperluannya sendiri,
tidak akan mungkin terdapat
kemiskinan di dunia ini,
dan tidak akan mungkin ada
orang mati kelaparan di dunia ini.

namun selama terdapat kemelaratan ini,
selama itu pula
Kita semua mencuri.

[mahatma gandhi]